SOSIOLOGI
ANAK
JALANAN
Dudi Akasyah
Peneliti
Simbol
kemiskinan suatu negara amat kontras jika yang kita saksikan di negara tersebut
adalah ditemukannya banyak anak-anak tidur di atas trotoar, tergeletak di
jembatan, baju kumal, dan bertumpuknya problema hidup lain yang sebenarnya amat
tidak pantas dihadapi oleh mereka. Banyak diantaranya anak jalanan yang tidak
tahu ayahnya siapa (lahir di luar nikah), orang tuanya mati dibacok, hidup
sendiri terlunta-lunta, pemakai narkoba, seks bebas, gay-lesbian, anak
dijual-belikan, dan kehidupan lain yang amat mengenaskan.
Kota
Jakarta sebagai ibukota Indonesia, di samping dihiasi dengan gedung pencakar
langit, juga disesaki oleh anak jalanan dan gelandangan. Bahkan kesan mewah
dari gedung pencakar langit mendadak redup dengan menjamurnya gelandangan yang
berani unjuk gigi. Banyaknya pengemis, pengamen, pemulung, sampai pencopet dan
penodong, telah menjadikan Jakarta sebagai kota yang penuh dengan sisi gelap.
Tak dapat dipungkiri bahwa makmur tidaknya suatu negara dapat dilihat dari
banyak tidaknya gelandangan yang mengisi lorong kota.
Penulis
telah berada di tengah-tengah anak jalanan sejak tahun 2005, sekitar tiga tahun
melakukan pengamatan dan terus mencari solusi berkaitan dengan maraknya anak
jalanan di ibukota negeri. Lokasi yang penulis maksud adalah kawasan kumuh
Pedongkelan dimana Perempatan Cocacola yang berada menjadi tempat mangkal
banyak anak jalanan. Selama melakukan pengamatan di Pedongkelan banyak hal
ditemukan yang tentunya berbeda dengan keadaaan masyarakat pada umumnya.
Bagaimana
perasaan anda jika melihat seorang anak tergolek di dekat kaki anda di saat
anda sedang menyetop kendaraan? Beragam sikap dilakukan orang di saat seperti
itu, ada yang memalingkan muka pura-pura tidak tahu, ada yang menghindar
memilih tempat yang lebih jauh dari anak itu, ada yang kikuk, ada juga yang
memandang sejenak tanpa makna, ada yang memberi uang, dan ada juga yang cuek.
Bahkan nafsu makan tiba-tiba turun di saat melihat anak kumal lewat. Amat
jarang ada orang yang menyapa simpatik kepada anak itu meski sekedar sapaan
ramah. Mungkin alasannya bermacam-macam dan dapat dimaklumi, seperti kesibukan
kerja, ada urusan, atau berpikir tentang obsesi masing-masing.
Seringkali
kita merasa asing dengan kehidupan mereka yang “eksklusif” dengan kekumuhannya,
kebiasaan aneh, jorok, kumal, dan jauh dari sisi kebersihan. Mereka berada
dalam keterasingan dari masyarakat pada umumnya. Begitupun juga anak-anaknya
yang telah mereka posisikan tak ubahnya seperti kata sudra. Mengambil posisi di
bawah, imperior, budaya meminta, mengulurkan tangan, dan nilai-nilai
ketertindasan. “om kasihani saya om..”
Pengawasan
yang Lemah
Lingkungan
anak jalanan merupakan tempat penuh penyakit bagi anak-anak seusia mereka.
Perilaku antisosial merupakan hal lumrah, bahkan biasa untuk dilakukan. Kontrol
sosial sangat lemah sebab situasi lingkungan yang serba permisif dengan tingkah
laku melawan hukum. Sperti ungkapan “Jangan
ikut campur” atau “aku bunuh kamu” dan perkataan kasar
lainnya merupakan gejala dimana telah terjadi permisifitas terhadap perilaku
antisosial.
Himpitan Ekonomi
Faktor
ekonomi menjadi penyebab mereka menempuh hidup seperti itu. Mereka sebenarnya
ingin tinggal di tempat layak, namun terbentur masalah ekonomi. Untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari mereka melakukan berbagai upaya seperti pedagang asongan,
pemulung, pengamen, ampai menjadi peminta-minta.
Permasalahan
okonomi pula yang menjadikan pendidikan anak menjadi tersendat. Banyak diantara
anak yang sudah remaja tetapi pendidikan hanya sampai SD, itupun hanya sampai
ke kelas tiga. Keterbatasan ekonomi menjadikan mereka melakukan apapun asalkan
cukup untuk menghidupi sehari-hari.
Tempat tinggal anak jalanan
Anak
jalanan umumnya tinggal di kolong jembatan, tempat kumuh, di sela-sela
bangunan, dan pinggiran jalan yang sangat jauh dari kesehatan dan keamanan.
Mereka hidup di bagian yang paling gelap dari hingar bingar kehidupan
perkotaan. Hidup di bantaran kali yang bau menyengat, mandi di air kotor,
bergulat dengan nyamuk yang banyak, pakaian kumal jarang dicuci, dan hidup di
tengah sampah menggunung.
Tempat
kumuh yang mereka tinggali bukan tanah miliknya melainkan tanah milik orang
lain yang sewaktu-waktu mereka dipaksa untuk angkat kaki dari tempat itu.
Banyak diantara mereka yang tidur beratapkan langit.
Kehidupan malam
Bagaimana
kehidupan anak jalanan di waktu malam? Mereka nongkrong atau mangkal di
tempat-tempat gelap, berkumpul, merokok, dan berjudi. Telinga anak laki-laki
yang masih kecil memakai tindik di daun telinganya. Masa-masa kecil yang
harusnya diisi untuk mencari ilmu dan steril dari pengaruh buruk ternyata tidak
berlaku bagi mereka. Mereka berada di tempat yang tidak semestinya,
meminta-minta kepada orang yang lewat, dan bernafas di tengah-tengah asap dan
deru kendaraan di banyak perempatan jalan ibukota.
Anak-anak
kecil itu bermain, berlarian, dan berkejaran di kolong jembatan layang. Di saat
lampu merah menyala mereka berlarian menuju bis kota atau angkutan umum untuk
mengamen atau meminta-minta. Ada diantaranya yang menggendong adiknya yang
kecil (oadahal ia juga masih kecil) dan dari kejauhan terdengar teriakan ibunya
yang membri arahan “operasi” kepada anak-anaknya, seperti teriakan: “Lo jangan diem aja ntar nggak dikasih makan
lo.” Dan teriakan-teriakan lainnya.
Budaya mengemis
Anak
jalanan umunya berteman dengan sesamanya. Proses imitasi atau peniruan terjadi
diantara mereka. Kebiasaan mengemis ditularkan kepada teman sebaya sehingga
jadilah tindakan mengemis sebagai budaya diantara mereka. Dalam istilah
sosiologi kriminologi sebagai subkultur. Anak yang awalnya tidak mau akhirnya
terpengaruh teman-temannya sehingga menjadi pengemis, teriakan: om minta uang
om.. menjadi latah dia ucapkan setiap bertemu dengan orang-orang.
Demikian
halnya dengan orang tua dari anak jalanan, mereka memberi pengaruh penting
dalam mengarahkan kepada anak. Banyak diantara mereka yang menyuruh
anak-anaknya mengamen dan meminta-minta, adapun ia duduk-duduk sambil mengawasi
anak-anaknya yang sedang beraksi. Mereka bahkan ada yang mengatakan bahwa
pendapatan dari mengemis atau ngamen lebih banyak ketimbang jualan. Ternyata,
dikalangan anak jalanan terdapat sudut pandang bahwa profesi pengemis atau
pengamen merupakan tern di kalangan mereka.
Pengemis berkedok pengamen
Dua
oaring anak naik ke bis. Keduanya komat-kamit nyaris tak terdengar, mungkin ia
sedang sambutan atau menyanyi, bagi keduanya mungkin tak penting. Setelah itu
ia menyodorkan telapak tangan ke penumpang, ke kiri dan ke kanan dengan maksud
supaya diberi uang. Setelah itu, kedua anak itu turun dan berlarian ke bis yang
lain, dan begitulah seterusnya.
Ada
juga anak yang menghiba-hiba supaya dikasihani oleh penumpang. Ada yang
menyanyi tentang orang tuanya yang meninggal dan ada juga nyanyian ingin
bekerja tapi tak ada lowongan. Alat menyanyi yang dipakai ada yang berupa gitar
kecil, kecrek dari kumpulan tutup botol atau botol yakult berisi pasir, dan ada
juga yang hanya berupa tepukan tangan. Apa yang mereka lakukan sebenarnya hanya
bentuk lain dari pengemisan.
Ditarik gerobak
Seorang
laki-laki berjalan di bawah terik matahari ibukota. Pakaiannya lusuh dan
bertopi kain yang warnanya telah pudar. Alas kaki dari sandal jepit yang kotor.
Ia berjalan perlahan menarik sebuah gerobak. Penulis mengikutinya dari belakang
dan berusaha melihat apa yang ada di gerobak tersebut. Dilihatnya seorang anak
kecil di gerobak serta seorang ibu tua. Di dalam gerobak bertumpuk baju kumal,
piring gelas, dan apa yang bisa dipakai. Laki-laki itu berjalan tertatih tidak
tahu arah tujuan, sesekali ia berhenti dan mengharapkan pemberian dari orang
yang lewat.
Broken home
Penulis
bertemu dengan beberapa anak jalanan dan bercakap dengannya dalam suasana
akrab. Anak itu curhat bahwa ayahnya telah mati dibacok oleh seseorang. Ada
juga anak yang tidak mengenal ayahnya (mungkin lahir di luar nikah). Di samping
itu ada anak yang di telantarkan oleh orang tuanya, ayah ibunya cerai dan
keduanya pergi entah kemana. Sekarang ia tinggal di orang tua temannya yang
sama-sama pengamen. Lemahnya pengawasan terhadap anak, ditemukan juga kasus terjadinya
perilaku homoseksual atau lesbian.
Jembatan Penyebrangan sebagai Tempat Mangkal
Jembatan
penyebrangan kerap dijadikan tempat duduk atau berbaringnya anak jalanan. Ia
tidak beralas kaki, baju dan celana yang ia kenakan kotor, rombeng, bercampur
debu tanah dan bau, rambut kusut dan kotor, dan matanya memandang mengundang
rasa iba. Setiap ada orang lewat, tangannya menengadah “Pak-Ibu kasihani
saya..” Kadang-kadang hanya mulutnya yang komat-kamit tanpa suara, mungkin ia
tahu bahwa ia sedang meminta belas kasihan.
Atau
juga ditemukan anak jalanan yang tidur tergeletak sambil memegang gelas aqua
kosong berisi sekeping-dua keeping uang koin. Ia tidur nyenyak kepalanya
sejajar dengan derap kaki orang-orang yang lewat hilir mudik di jembatan
penyebrangan.
Mengapa
ia memilih jembatan penyebrangan sebagai tempat mengemis, ada beberapa
kemungkinan, pertama, lebih banyak orang lewat ke sana. Kedua menghindari
operasi trantib yang biasanya hanya merazia di sekitar trotoar jalan. Ketiga,
tidak diusir oleh pemilik took atau warga, dan sebagainya.
Visualisasi tempat tinggal anak jalanan
Gubuk-gubuk
itu berdiri di atas rawa. Tempat pijakan kaki dilapisi papan sebagai jalanan
gang yang di bawahnya terdapat rawa-rawa dengan bau menyengat. Gubuk berdiri
beratapkan seng. Di atas gang terdapat gubuk di atasnya. Gubuk terdiri dari
kayu bekas, triplek usang, dan seng. Air yang dikonsumsi terasa hambar dan
kadar asinnya cukup tinggi untuk kategori air minum. Boleh jadi, air itu jika
dipakai untuk memasak masakan maka tidak usah pakai garam sebab kadar garam
airnya pun tinggi.
Bentuk gubuk
Penulis
pernah berkunjung ke sebuah gubuk gelandangan. Ukurannya sekitar 3X3 meter.
Tingginya 2,5 meter. Terbuat dari kertas karton. Terdiri dari tiga “tingkat”
yang pendek-pendek, ukuran masing-masingnya: Tingkat 1 tingginya 0,5 meter
untuk perabotan dapur dan cucian, tingkat 2 tingginya 1 meter untuk tidur, dan
tingkat 3 tingginya 1 meter untuk pakaian dan barang-barang bersih. Gubuk
tersebut dihuni oleh lima orang. 3 anak-anak, seorang ibu, dan seorang nenek.
Diketahui anak-anak itu adalah yatim. Saya menemukan mereka di Pedongkelan.
Jika ditelusuri seorang demi seorang maka kita akan menemukan sisi kehidupan
yang sungguh di luar dugaan kita sebagai masyarakat pada umumnya.
Untouchabel People
Jika
banyak orang mengatakan bahwa penguasa dan konglomerat kakap nyaris tak
tersentuh sebab mereka mempunyai power maka sebenarnya gelandangan juga tak
tersentuh sama-sekali oleh tangan pemerintah dalam hal tidak mempunyai
kekuasaan sama sekali. Jika menelisuri seorang gelandangan maka kita akan
menemukan bahwa ia tidak mempunyai
perlindungan sama sekali, tidak punya tempat tinggal, tidak sekolah, tidak tahu
kampung halaman, dan tidak tahu dimana keberadaan orang tuanya. Lalu akan kita
kemanakan anak itu? Adakah sebuah lembaga yang bersedia untuk menampung,
membina, dan mengembangkan potensi sampai anak itu berusia mampu dan dewasa.
Penyebab hilangnya rasa malu
Menyamar,
belum kenal, pengemis pun malu kalau bertemu dengan tetangganya atau teman
sekampung.
Tipe anak jalanan
1. Anak
jalanan yang benar-benar tidak mampu; ia terlantar, tidak punya sanak saudara,
ditinggalkan orang tuanya; inilah yang perlu pembinaan. Perlu didirikan lembaga
penampungan.
2. Anak
hanya sebagai alat dari orang tua, atau dari coordinator untuk mendatangkan
keuntungan dari hasil mengamen atau meminta-minta.
3. Berpura-pura
tidak mampu, tetapi di kampungnya ia terbilang mampu. Antisipasi: Pemerintah
perlu nge-cek ke kampungnya.
Mencoreng Muka Negeri
Bagaimana
jadinya kalau Presiden berpakaian necis, sepatu mengkilat, kemeja putih dan
berdasi kemudian menyambut kedatangan tamu asing. Akan tetapi, si tamu itu
melihat ada anak-anak jalanan tidur tergeletak di pinggir jalan. Kemudian tamu
itu bertanya kepada Presiden: “Bapak siapakah gerangan anak yang tidur itu?”
Tentu Presiden akan menjawab pertanyaan itu, seolah-olah tak ada gunanya sama
sekali penampilannya selama ini jika masih terdapat anak-anak yang kehidupannya
terlantar.
Jakarta, 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar