Jumat, 01 November 2013

sosiologi anak jalanan


SOSIOLOGI
ANAK JALANAN

Dudi Akasyah
Peneliti


Simbol kemiskinan suatu negara amat kontras jika yang kita saksikan di negara tersebut adalah ditemukannya banyak anak-anak tidur di atas trotoar, tergeletak di jembatan, baju kumal, dan bertumpuknya problema hidup lain yang sebenarnya amat tidak pantas dihadapi oleh mereka. Banyak diantaranya anak jalanan yang tidak tahu ayahnya siapa (lahir di luar nikah), orang tuanya mati dibacok, hidup sendiri terlunta-lunta, pemakai narkoba, seks bebas, gay-lesbian, anak dijual-belikan, dan kehidupan lain yang amat mengenaskan.
Kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia, di samping dihiasi dengan gedung pencakar langit, juga disesaki oleh anak jalanan dan gelandangan. Bahkan kesan mewah dari gedung pencakar langit mendadak redup dengan menjamurnya gelandangan yang berani unjuk gigi. Banyaknya pengemis, pengamen, pemulung, sampai pencopet dan penodong, telah menjadikan Jakarta sebagai kota yang penuh dengan sisi gelap. Tak dapat dipungkiri bahwa makmur tidaknya suatu negara dapat dilihat dari banyak tidaknya gelandangan yang mengisi lorong kota.
Penulis telah berada di tengah-tengah anak jalanan sejak tahun 2005, sekitar tiga tahun melakukan pengamatan dan terus mencari solusi berkaitan dengan maraknya anak jalanan di ibukota negeri. Lokasi yang penulis maksud adalah kawasan kumuh Pedongkelan dimana Perempatan Cocacola yang berada menjadi tempat mangkal banyak anak jalanan. Selama melakukan pengamatan di Pedongkelan banyak hal ditemukan yang tentunya berbeda dengan keadaaan masyarakat pada umumnya.
Bagaimana perasaan anda jika melihat seorang anak tergolek di dekat kaki anda di saat anda sedang menyetop kendaraan? Beragam sikap dilakukan orang di saat seperti itu, ada yang memalingkan muka pura-pura tidak tahu, ada yang menghindar memilih tempat yang lebih jauh dari anak itu, ada yang kikuk, ada juga yang memandang sejenak tanpa makna, ada yang memberi uang, dan ada juga yang cuek. Bahkan nafsu makan tiba-tiba turun di saat melihat anak kumal lewat. Amat jarang ada orang yang menyapa simpatik kepada anak itu meski sekedar sapaan ramah. Mungkin alasannya bermacam-macam dan dapat dimaklumi, seperti kesibukan kerja, ada urusan, atau berpikir tentang obsesi masing-masing.
Seringkali kita merasa asing dengan kehidupan mereka yang “eksklusif” dengan kekumuhannya, kebiasaan aneh, jorok, kumal, dan jauh dari sisi kebersihan. Mereka berada dalam keterasingan dari masyarakat pada umumnya. Begitupun juga anak-anaknya yang telah mereka posisikan tak ubahnya seperti kata sudra. Mengambil posisi di bawah, imperior, budaya meminta, mengulurkan tangan, dan nilai-nilai ketertindasan. “om kasihani saya om..”
Pengawasan yang Lemah
Lingkungan anak jalanan merupakan tempat penuh penyakit bagi anak-anak seusia mereka. Perilaku antisosial merupakan hal lumrah, bahkan biasa untuk dilakukan. Kontrol sosial sangat lemah sebab situasi lingkungan yang serba permisif dengan tingkah laku melawan hukum. Sperti ungkapan “Jangan ikut campur” atau “aku bunuh kamu” dan perkataan kasar lainnya merupakan gejala dimana telah terjadi permisifitas terhadap perilaku antisosial.
Himpitan Ekonomi
Faktor ekonomi menjadi penyebab mereka menempuh hidup seperti itu. Mereka sebenarnya ingin tinggal di tempat layak, namun terbentur masalah ekonomi. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka melakukan berbagai upaya seperti pedagang asongan, pemulung, pengamen, ampai menjadi peminta-minta.
Permasalahan okonomi pula yang menjadikan pendidikan anak menjadi tersendat. Banyak diantara anak yang sudah remaja tetapi pendidikan hanya sampai SD, itupun hanya sampai ke kelas tiga. Keterbatasan ekonomi menjadikan mereka melakukan apapun asalkan cukup untuk menghidupi sehari-hari.
Tempat tinggal anak jalanan
Anak jalanan umumnya tinggal di kolong jembatan, tempat kumuh, di sela-sela bangunan, dan pinggiran jalan yang sangat jauh dari kesehatan dan keamanan. Mereka hidup di bagian yang paling gelap dari hingar bingar kehidupan perkotaan. Hidup di bantaran kali yang bau menyengat, mandi di air kotor, bergulat dengan nyamuk yang banyak, pakaian kumal jarang dicuci, dan hidup di tengah sampah menggunung.
Tempat kumuh yang mereka tinggali bukan tanah miliknya melainkan tanah milik orang lain yang sewaktu-waktu mereka dipaksa untuk angkat kaki dari tempat itu. Banyak diantara mereka yang tidur beratapkan langit.
Kehidupan malam
Bagaimana kehidupan anak jalanan di waktu malam? Mereka nongkrong atau mangkal di tempat-tempat gelap, berkumpul, merokok, dan berjudi. Telinga anak laki-laki yang masih kecil memakai tindik di daun telinganya. Masa-masa kecil yang harusnya diisi untuk mencari ilmu dan steril dari pengaruh buruk ternyata tidak berlaku bagi mereka. Mereka berada di tempat yang tidak semestinya, meminta-minta kepada orang yang lewat, dan bernafas di tengah-tengah asap dan deru kendaraan di banyak perempatan jalan ibukota.
Anak-anak kecil itu bermain, berlarian, dan berkejaran di kolong jembatan layang. Di saat lampu merah menyala mereka berlarian menuju bis kota atau angkutan umum untuk mengamen atau meminta-minta. Ada diantaranya yang menggendong adiknya yang kecil (oadahal ia juga masih kecil) dan dari kejauhan terdengar teriakan ibunya yang membri arahan “operasi” kepada anak-anaknya, seperti teriakan: “Lo jangan diem aja ntar nggak dikasih makan lo.” Dan teriakan-teriakan lainnya.
Budaya mengemis
Anak jalanan umunya berteman dengan sesamanya. Proses imitasi atau peniruan terjadi diantara mereka. Kebiasaan mengemis ditularkan kepada teman sebaya sehingga jadilah tindakan mengemis sebagai budaya diantara mereka. Dalam istilah sosiologi kriminologi sebagai subkultur. Anak yang awalnya tidak mau akhirnya terpengaruh teman-temannya sehingga menjadi pengemis, teriakan: om minta uang om.. menjadi latah dia ucapkan setiap bertemu dengan orang-orang.
Demikian halnya dengan orang tua dari anak jalanan, mereka memberi pengaruh penting dalam mengarahkan kepada anak. Banyak diantara mereka yang menyuruh anak-anaknya mengamen dan meminta-minta, adapun ia duduk-duduk sambil mengawasi anak-anaknya yang sedang beraksi. Mereka bahkan ada yang mengatakan bahwa pendapatan dari mengemis atau ngamen lebih banyak ketimbang jualan. Ternyata, dikalangan anak jalanan terdapat sudut pandang bahwa profesi pengemis atau pengamen merupakan tern di kalangan mereka.
Pengemis berkedok pengamen
Dua oaring anak naik ke bis. Keduanya komat-kamit nyaris tak terdengar, mungkin ia sedang sambutan atau menyanyi, bagi keduanya mungkin tak penting. Setelah itu ia menyodorkan telapak tangan ke penumpang, ke kiri dan ke kanan dengan maksud supaya diberi uang. Setelah itu, kedua anak itu turun dan berlarian ke bis yang lain, dan begitulah seterusnya.
Ada juga anak yang menghiba-hiba supaya dikasihani oleh penumpang. Ada yang menyanyi tentang orang tuanya yang meninggal dan ada juga nyanyian ingin bekerja tapi tak ada lowongan. Alat menyanyi yang dipakai ada yang berupa gitar kecil, kecrek dari kumpulan tutup botol atau botol yakult berisi pasir, dan ada juga yang hanya berupa tepukan tangan. Apa yang mereka lakukan sebenarnya hanya bentuk lain dari pengemisan.
Ditarik gerobak
Seorang laki-laki berjalan di bawah terik matahari ibukota. Pakaiannya lusuh dan bertopi kain yang warnanya telah pudar. Alas kaki dari sandal jepit yang kotor. Ia berjalan perlahan menarik sebuah gerobak. Penulis mengikutinya dari belakang dan berusaha melihat apa yang ada di gerobak tersebut. Dilihatnya seorang anak kecil di gerobak serta seorang ibu tua. Di dalam gerobak bertumpuk baju kumal, piring gelas, dan apa yang bisa dipakai. Laki-laki itu berjalan tertatih tidak tahu arah tujuan, sesekali ia berhenti dan mengharapkan pemberian dari orang yang lewat.
Broken home
Penulis bertemu dengan beberapa anak jalanan dan bercakap dengannya dalam suasana akrab. Anak itu curhat bahwa ayahnya telah mati dibacok oleh seseorang. Ada juga anak yang tidak mengenal ayahnya (mungkin lahir di luar nikah). Di samping itu ada anak yang di telantarkan oleh orang tuanya, ayah ibunya cerai dan keduanya pergi entah kemana. Sekarang ia tinggal di orang tua temannya yang sama-sama pengamen. Lemahnya pengawasan terhadap anak, ditemukan juga kasus terjadinya perilaku homoseksual atau lesbian.
Jembatan Penyebrangan sebagai Tempat Mangkal
Jembatan penyebrangan kerap dijadikan tempat duduk atau berbaringnya anak jalanan. Ia tidak beralas kaki, baju dan celana yang ia kenakan kotor, rombeng, bercampur debu tanah dan bau, rambut kusut dan kotor, dan matanya memandang mengundang rasa iba. Setiap ada orang lewat, tangannya menengadah “Pak-Ibu kasihani saya..” Kadang-kadang hanya mulutnya yang komat-kamit tanpa suara, mungkin ia tahu bahwa ia sedang meminta belas kasihan.
Atau juga ditemukan anak jalanan yang tidur tergeletak sambil memegang gelas aqua kosong berisi sekeping-dua keeping uang koin. Ia tidur nyenyak kepalanya sejajar dengan derap kaki orang-orang yang lewat hilir mudik di jembatan penyebrangan.
Mengapa ia memilih jembatan penyebrangan sebagai tempat mengemis, ada beberapa kemungkinan, pertama, lebih banyak orang lewat ke sana. Kedua menghindari operasi trantib yang biasanya hanya merazia di sekitar trotoar jalan. Ketiga, tidak diusir oleh pemilik took atau warga, dan sebagainya.
Visualisasi tempat tinggal anak jalanan
Gubuk-gubuk itu berdiri di atas rawa. Tempat pijakan kaki dilapisi papan sebagai jalanan gang yang di bawahnya terdapat rawa-rawa dengan bau menyengat. Gubuk berdiri beratapkan seng. Di atas gang terdapat gubuk di atasnya. Gubuk terdiri dari kayu bekas, triplek usang, dan seng. Air yang dikonsumsi terasa hambar dan kadar asinnya cukup tinggi untuk kategori air minum. Boleh jadi, air itu jika dipakai untuk memasak masakan maka tidak usah pakai garam sebab kadar garam airnya pun tinggi.
Bentuk gubuk
Penulis pernah berkunjung ke sebuah gubuk gelandangan. Ukurannya sekitar 3X3 meter. Tingginya 2,5 meter. Terbuat dari kertas karton. Terdiri dari tiga “tingkat” yang pendek-pendek, ukuran masing-masingnya: Tingkat 1 tingginya 0,5 meter untuk perabotan dapur dan cucian, tingkat 2 tingginya 1 meter untuk tidur, dan tingkat 3 tingginya 1 meter untuk pakaian dan barang-barang bersih. Gubuk tersebut dihuni oleh lima orang. 3 anak-anak, seorang ibu, dan seorang nenek. Diketahui anak-anak itu adalah yatim. Saya menemukan mereka di Pedongkelan. Jika ditelusuri seorang demi seorang maka kita akan menemukan sisi kehidupan yang sungguh di luar dugaan kita sebagai masyarakat pada umumnya.
Untouchabel People
Jika banyak orang mengatakan bahwa penguasa dan konglomerat kakap nyaris tak tersentuh sebab mereka mempunyai power maka sebenarnya gelandangan juga tak tersentuh sama-sekali oleh tangan pemerintah dalam hal tidak mempunyai kekuasaan sama sekali. Jika menelisuri seorang gelandangan maka kita akan menemukan bahwa  ia tidak mempunyai perlindungan sama sekali, tidak punya tempat tinggal, tidak sekolah, tidak tahu kampung halaman, dan tidak tahu dimana keberadaan orang tuanya. Lalu akan kita kemanakan anak itu? Adakah sebuah lembaga yang bersedia untuk menampung, membina, dan mengembangkan potensi sampai anak itu berusia mampu dan dewasa.
Penyebab hilangnya rasa malu
Menyamar, belum kenal, pengemis pun malu kalau bertemu dengan tetangganya atau teman sekampung.
Tipe anak jalanan
1.      Anak jalanan yang benar-benar tidak mampu; ia terlantar, tidak punya sanak saudara, ditinggalkan orang tuanya; inilah yang perlu pembinaan. Perlu didirikan lembaga penampungan.
2.      Anak hanya sebagai alat dari orang tua, atau dari coordinator untuk mendatangkan keuntungan dari hasil mengamen atau meminta-minta.
3.      Berpura-pura tidak mampu, tetapi di kampungnya ia terbilang mampu. Antisipasi: Pemerintah perlu nge-cek ke kampungnya.
Mencoreng Muka Negeri
Bagaimana jadinya kalau Presiden berpakaian necis, sepatu mengkilat, kemeja putih dan berdasi kemudian menyambut kedatangan tamu asing. Akan tetapi, si tamu itu melihat ada anak-anak jalanan tidur tergeletak di pinggir jalan. Kemudian tamu itu bertanya kepada Presiden: “Bapak siapakah gerangan anak yang tidur itu?” Tentu Presiden akan menjawab pertanyaan itu, seolah-olah tak ada gunanya sama sekali penampilannya selama ini jika masih terdapat anak-anak yang kehidupannya terlantar.

     Jakarta, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar